They're mine

Agustus 12, 2012

Seminggu Setelah Kepergianmu

Tak ada lagi kamu yang memenuhi kotak inbox dan blackberry messenger ku. tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang membuncah ricuh di telingaku. tak ada lagi genggaman tanganmu yang menguatkan setiap langkahku. tak ada lagi pelukanmu yang meredam segala kecemasan. tanpamu... semua berbeda dan tak lagi sama.

Aku membuka mata dan berharap hari-hariku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu, walau tak ada kamu yang memenuhi hari-hariku. seringkali aku terbiasa melirik ke layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa emoticon kiss dan peluk yang memasok energiku. pagi yang berbeda. ada sesuatu yang hilang.

Lalu, aku menjalani semua aktivitasku, seperti biasa, kamu tentu tahu itu. dulu, kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitasku. namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malamku. tak ada lagi pesan singkat yang mengingatkanku untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang harusnya aku lakukan. tapi... entah mengapa aku seperti merasa kehilangan, tak pernah tahu apa yang pernah hilang. aku seperti mencari, tanpa tahu apa yang telah kutemukan.

Rasa ini begitu absurd dan sulit untuk di deskripsikan. kamu membawa jiwaku melayang ke negeri entah berantah, dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan tak ku ketahui. aku bercermin, memperhatikan setiap lekuk wajah dan tubuhku. aku tak mengenal sosok di dalam cermin itu. tak ada aku dalam cermin yang kuperhatikan sejak tadi. aku berbeda dan tak lagi mengenal siapa diriku. seseorang yang kukenal di dalam tubuhku kini menghilang secara magis setelah kepergian kamu. kamu merampas habis cinta yang kupunya, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. entah dimana aku bisa menemukan diriku yang telah hilang itu. entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang ku kenal itu kedalam tubuhku. aku kebingungan dan kehilangan arah.

Ingin rasanya aku melempari segala macam benda agar bisa memecahkan cermin itu. agar aku tidak bisa melihat diriku yang tak lagi ku kenal. agar aku tak perlu menyadari perubahan yang begitu besar terjadi setelah kehilangan kamu. aku bisa berhenti mempercayai cinta jika terlalu sering tenggelam dalam rasa frustasi seperti ini. aku mungkin akan berhenti mempercayai lawan jenis dan segala janji-janji tololnya. siksaanmu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua sakit yang telah kau sebabkan.

Bagaimana mungkin aku bisa menemukan yang lebih baik jika aku pernah memiliki yang terbaik? Bagaimana mungkin aku bisa menemukan yang sempurna jika aku pernah memiliki yang paling sempurna?

Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. kamu tertawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar... entah harus kusebut apa. aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau sulit itu. aku merasa sangat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemukan kebahagiaan. bagaimana mungkin aku harus menyebut semua adalah wujud kesetiaan? begitu sulitnya aku melupakanmu, dan begitu mudahnya kamu melupakan aku. inikah caramu menyakiti seseorang yang tak pantas kau lukai?

Jam berganti hari, dan semua berputar... tetap berotasi. aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu. kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. aku tak menyangka, begitu mudahnya kamu menemukan penggantiku, mungkin, yang tersembunyi di dalam hatimu itu. begitu gampangnya kamu melupakan semua yang telah terjadi. aku hanya ingin tahu isi otakmu saja, apa kamu tidak pernah memikirkan mendung yang semakin menghitam dihatiku? atau... mungkin saja kamu tidak punya otak? atau tidak punya hati?

Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan. tak ada hal yang mampu kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menoreh luka lagi. aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan menganggapnya tak ada. kepergianmu yang tak berasalan, kehilangan yang begitu menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Aku mulai suka dengan air mata yang seringkali jatuh untukmu. aku mulai menikmati saat-saat nafasku sesak ketika mengingatmu. aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.

Terimakasih.

Dengan luka seperti ini.

Dengan rasa sakit sedalam ini.

Aku jadi tambah sering menulis.

Lebih banyak dari biasanya.

Aku semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis banyak hal. 
sama seperti aku, butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis... terutama bercerita tentangmu.

created by dwitasari, ditulis ulang dan di perbaharui oleh Fitrie Amalia Dewi. Real.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar